Senin, 31 Maret 2008

ISTANA DEWI IMPIAN

          Sudah beberapa hari ini uti selalu melamun dan menyadari di pinggir hutan. Ia sedih kerena karena emak sering marah-marah. Padahal, di rumah uti selalu rajin membantu, mencuci, menanak nasi, bahkan menjaga ke dua adiknya yang masih kecil. Namun tetap saja emak ering marah tanpa alasan yang jelas.
Uti bosan dan rasanya ingin pergi saja dari rumah. Tapi kemana? Uti bingung. Ah, seandainya bapak masih ada, keluhnya sedih, tentu nasibku tidak akan emalang ini.sambil berandar pada sebuah pohon besar. Uti menangisi nasibnya yang malang itu.

          “Mengapa kau menangis, uti? Tiba-tiba terdengar suara merdu dari arah belakang.seketika uti menoleh dan terkejut. Nampak olehnya seorang wanita sedang terenyum.
“Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu, kata wanita itu.
‘Si .. si .. siapakah engkau? Tanya uti gugup.

          “Namaku dewi impian, bidadari dari istana impian. Aku datang kemari melihat kau beredih hati. Dan aku bermaksud hendak menolongmu, uti. Kata wanita itu. Masih di liputi oleh rasa takut uti menjawab dengan gugup,” aku tidak mengerti maksudmu,dewi impian.”
“Bukankah kau ingin pergi dari rumah?” tanya dewi impian”.
Dengan ragu-ragu uti mengangguk.

          “Nah, akan kuajak kau pergi ke istanaku,” ucap dewi impiansambil mengulurkan tangannya.
“mengapa harus ke sana?”tanya uti.

          “ karena di sana banyak makanan lezat, pakaian serta beraneka macam mainan bagus buatmu.kau dapat bermain dengan sepuas hati, sehingga akan melupakan keedihanmu itu, uti,” jawab dewi impian. Hampir tak percaya uti menatap dewi impian. Pakaian bagus? Belum pernah ia memilikinya, apalagi beraneka macam mainan. Dan makanan yang erba lezat! Olala, tentu sangat nikmat sekali.
“Bagaimana?” tanya dewi impian.
“Baiklah,” jawab uti dengan mata berbinar-binar.
“Tapi dengan apa kita pergi kesana?”

          Dewi impian tersenyum, kemudian berkata “kau akan tahu jika telah kau pegang tanganku ini.”
Akhirnya uti memegang tangan dewi impian, tapi kemudian terkejut, karena mendadak tubuhnya melayang di udara. Makin lama makin tinggi. Dengan gemetar uti menggenggam tangan dewi impian lebih erat lagi. Ia tidak berani memandang ke bawah.

          “jangan takut, uti, kau tidak akan jatuh ke bawah!” kata dewi impian menenangkan.
Uti kembali tenang, bahkan kemudian meraa takjub. Bersama dewi impian, ia terbang menerobos angin dan sesekali menerjang segumpal awan lembut.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah istana yang megah, lengkap dengan taman bunga yang indah.

          “Inikah istana impian itu, dewi ?” tanya uti pensaran.
“ Benar,”jawab dewi impian sambail mengajak uti keliling istana. Berkali-kali uti berdecak kagum, melihat keindahan serta kemewahan perabot istana yang semuanya terbuat dari emas itu.
Akhirnya mereka tiba di suatu ruangan yang cukup luas. Di sana berkumpul beberapa anak kecil seusia uti. Mereka nampak gembira, bermain, dan bernyani bersama.
“Nah, bermainlah bersama mereka, uti, karena aku masih banyak urusan,”kata dewi impian kemudian sambil berlalu.

         Uti sangat senang tinggal di istana. Ia bebas bermain dan bermalas-malasan, tanpa harus bekerja berat. Apalagi di istana impian terebut uti juga bisa menikmati berbagai macam makan lezat sepuas-puasnya. Uti benar-benar bahagia, sehingga lupa kepada emak dan kedua adiknya di rumah.
Pada suatu malam uti bermimpi buruk. Ia melihat emak dan ke dua adiknya sedang menangis karena lapar. Mereka memanggil nama uti serta minta agar di beri makanan. seketika uti tersentak bangun, lalu menangis teredu-sedu.

          “Mengapa kau menangis lagi, uti?”tiba-tiba saja dewi impian muncul dan duduk di tepi ranjanag.
“Saya teringat pada emak dan adik-adik, dewi,”tangis uti semakin tersedu, lalau di ceritakannya mimpinya itu.
“Dan sekarang saya menyesal telah meninggalkan mereka. Saya ingin pulang saja, dewi,”kata uti.
“Tapi bukankah di sini cukup menyenangkan, uti?” tanya dewi impian.

          “Memang benar, tapi saya juga sayang pada emak dan adik-adik di rumah. Lagi pula siapa yang akan menolong emak jika saya tetap berada di sini?” lanjut uti. Mendengar ucapan uti, dewi impian menjadi terharu sekaligus tidak sampai hati. Kemudian sambil terenyum, di belai-belainya kepala uti dengan penuh kasih sayang.
“Baiklah. Jika itu memang sudah menjadi pilihanmu, aku tidak akan mencegahnya lagi,” kata dewi impian akhirnya.

          “Sekarang, peganglah tanganku ini,” kata dewi di ikuti uti menuruti kata-kata sang dewi seperti ketika pertama kali datang, dewi impian membawa uti terbang. Hingga bebearapa saat kemudian mereka mendart tetap di depan rumah uti.

          ‘Kau mamang anak yang baik, uti...” kata dewi impian sebelum berpisah.
“Mekipun kau dapat hidup senang di istanaku, namun ternyata kau lebih suka berkumpul dengan keluargamu. Aku sangat kagum atas pilihanmu itu. Dan ebagai tanda penghargaanku, terimalah hadiah ini, uti. Pergunakanlah dengan sebaik-baiknya,”kata dewi impian sambil menyerahkan sebuah hadiah berupa kalung emas permata kepada uti. Namun belum sampai ia mengucapkan terima kasih, secepat kilat dewi impian melesat terbang ke atas.

          Dengan perasaan haru sekaligus bahagia, uti mengetuk pintu dan berseru memanggil emaknya. Pintu di buka oleh emak.
“Uti, anakku!” tangis emak sambil memeluk uti.

          “Ke mana aja kau selama ini? Emak pikir kau tidak akan pernah kembali,” kata emak.
Maafkan saya, karena telah membuat emak sedih,”uti balas memeluk emak dengan hangat.

Tidak ada komentar: